Sripuspa's Blog

cintaku di bis kota

Posted on: Agustus 12, 2009

CINTAKU DI BIS KOTA

Tanggal 1 April 2009, saya nonton sebuah acara di SCTV ‘Cinta Lokasi’. Episode ini lain dari yang lain. Sangat mengejutkan tapi memang ini adalah nyata!
Adalah Dea seorang gadis muda kernet bis kota. Sebenarnya dia gadis yang cantik, menarik, tak heran kalau ada seorang pria yang jatuh cinta padanya. Pria ini minta kepada tim Cinta Lokasi buat merealisasikan keinginannya. Dea sungguh membuatnya penasaran.
Saat diikuti kemana jejak-jejak Dea, pemandangan mata kru dan pria ini dibuat terkesima. Dari pagi sampai sore kegiatannya bergulat dengan debu jalanan, dia kotor, kumel, kucel, dan ciri khasnya selalu pakai topi yang bagian depannya dikebelakangin. Habis nge-nek, dicuci mobil bis kota itu, pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh tangan cowok. Dari awal menguntit, baru sore itulah Dea hendak mengisi perutnya dengan mendatangi warteg. Dan apa yang terjadi, seperti ada yang tak beres. Dea berdebat mulut dulu dengan si pemilik warteg.
Karna dibuat penasaran, kru dan pria itu mendatangi Dea di tempat tersebut. Ternyata benar ada keributan, Dea ingin makan tapi tak diberi lantaran utangnya yang lalu-lalu Rp.65.000 belum dibayar. Dengan meringis Dea berkata “Nanti saya bayaar”
Saat sang pria ingin membantu membayar, Dea menolaknya, katanya “Ini urusan saya!”
Dea emosi, urat galaknya keluar kemana-mana. Dengan perut kosong ia pergi tak pedulikan semua. Bahkan tuk dikejar pun Dea susah, keras kepala dan galaknya minta ampun. Dia macam laki-laki saja, seperti seorang preman.
Sang pria tak pantang menyerah, ia dan kru cari-cari informasi di sekitar warteg itu, dan membuahkan hasil sebuah alamat rumah Dea.
Rumah Dea terletak di gang sempit, padat, kumuh. Rumahnya cuma sepetak, ia tinggal bersama adik perempuannya. Mumpung Dea lagi kerja keluar, kru dan si pria tanya-tanya tentang Dea pada adiknya di dalam rumah sepetak yang menyedihkan itu. Kata adiknya “Kami tinggal berdua, kedua orang tua udah meningggal” membikin tambah prihatin saja. Saat ditanya “Kak Dea udah punya pacar belum?”, adiknya menjawab “Gimana mau punya pacar, kak Dea kerja terus”
Tanpa diduga Dea pulang langsung menggebrag pintu yang terbuka “Hey! Ngapain pada kesini! Keluar!”, dengan sedemikian rupa seramnya, Dea mengusir tim Cinta Lokasi beserta pria itu, bahkan adiknya kena bentakan “Diem!” sambil nunjuk-tunjuk.
Sedangkan ibu-ibu diluar yang nonton ditodong-todongi, kalau nggak salah pakai botol oleh Dea, disuruh bubar. Semua kalah dengan kegalakan Dea.
Tapi sang pria ini sama sekali tak pantang menyerah. Ia dan kru mempunyai ide tuk bekerja sama dengan bos Dea, tentunya tanpa sepengetahuan Dea.
Disaat mobil mogok (rekaan), Dea yang kesal mencoba sabar. Semua penumpang turun kecuali 3 orang, 2 orang dari kru Cinlok, dan 1 pangeran Dea yang pantang menyerah. Sedikit ucapan cinta/suka dibarengi rasa getir dan risih akhirnya berhasil dinyatakan. Dea sama sekali tak bereaksi merespon hangat, ia tetap jutek namun mengurangi kegalakannya. Pria ini ingin mengajaknya makan malam. Kata Dea “Tapi habis ini jangan nemuin gue lagi, ini yang terakhir”, sedikit ragu, sang pria menyetujui.
Usaha keras itu sedikit ada hasil.
Di restoran/cafe, Dea datang ada yang beda, dia tanpa memakai topi, rambut panjang terurainya membuat Dea nampak semakin cantik walau tanpa dandan sedikit pun, ia memang begitu sederhana. Tapi di hadapan pria itu Dea tidak pernah senyum.
Disitu sang pria menyatakan betapa besar cintanya pada Dea. Sementara sambutan Dea hanya dengan berkali-kali batuk. Batuk dan batuk lagi pakai tisu yang tersedia di meja. Sudah cukup berbicara, giliran Dea yang ngomong
“Kamu salah orang” dan Dea langsung pergi
Ya, Dea pergi meninggalkan kafe. Mau dikejar, ingat pada wataknya yang galak dan keras kepala. Karna rasa cinta, pria pengertian ini membiarkan Dea tuk menenangkan diri.
Saat didatangi 2 host Cinlok, mereka bertiga kaget, tisu yang dibatuki Dea menorehkan setetes darah. Khawatir dan was-was tentu saja menyeringgai di dada pria ini. Namun ia begitu yakin, kalau Dea juga menyukainya.
Lusa, tim Cinlok mendatangi rumah Dea. Astagfirullah, ada banyak ibu-ibu sedang tahlilan disana. Saat ditanya “Siapa yang meninggal?”
“Kak Dea meninggal … ” tangis adiknya
Bukan bagai disambar petir lagi, pria ini shok bukan main.
Itulah artinya perkataan Dea ‘Setelah makan malam, itu pertemuan yang terakhir, jangan datengin gue lagi’
Dea benar-benar tidak bisa didatangi lagi, bukan karna pindah tempat di dunia, tetapi pindah tempat ke akherat, alam baka.
Saat diantar ke kuburan, adiknya Dea menunjukan buku harian Dea. Saat dibaca oleh pria itu, ia berteriak
“Ya Allah, saya juga tau, Dea suka sama saya!”

Angan-angan si penulis
Dari Dea :
Dia juga menyayangi pria tersebut, sebelum meninggal mungkin ia punya harapan, semoga pria itu lekas dapat wanita yang bisa mengobati kepedihan hatinya.
Untuk pria itu :
Sepertinya suatu saat nanti, dia kan bertemu wanita bagai sosok Dea. Dan wanita itu adalah utusan perasaan Dea terhadapnya.

(Bila ada kesalahan pada penulisan ucapan, tolong dima’afkan. Episode ini membuat saya menangis)

cintaku di bis kota

2 Tanggapan to "cintaku di bis kota"

Greetings from Florida! I’m bored to tears at work so I decided to browse your site on my iphone during lunch break. I enjoy the knowledge you present here and can’t wait to take a look when I get home.
I’m surprised at how quick your blog loaded on my cell phone .. I’m not even
using WIFI, just 3G .. Anyhow, good blog!

thank you, mr. otak!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

sridevi

%d blogger menyukai ini: